News & Promo

Orangtua di Indonesia Belum Paham Cyberbullying

Rabu, 25 Januari 2017

Cyberbullying atau perundungan secara daring memang bukan merupakan isu baru. Meski demikian, cyberbullying masih menjadi isu utama yang banyak dikahwatirkan oleh para orangtua, termasuk di Indonesia. 

Menurut riset terbaru dari Symantec, sebanyak 49 persen orangtua di Indonesia yang memperbolehkan anak di bawah umur 11 tahun untuk mengakses internet mengatakan khawatir dengan keberadaan cyberbullying. Bahkan 41 persen orangtua di Indonesia yakin anaknya lebih mungkin untuk mengalami cyberbullying ketimbang mengalami perundungan di dunia nyata.

"Saat ini anak-anak bukan lagi menghadapi ancaman fisik atau perlawanan secara langsung," ujar Director, Asia Consumer Business, Symantec, Chee Choon Hong.

"Cyberbullying adalah isu yang sedang berkembang dan para orangtua sedang berupaya untuk mengidentifikasi dan mengatasi ancaman ini. Kekhawatiran bagi banyak orang tua adalah cyberbullying tidak berhenti saat anak mereka pulang dari sekolah. Selama anak mereka masih menggunakan perangkat, pelaku bully dapat terhubungkan ke mereka."

Sayangnya, masih banyak orangtua yang enggan melaporkan tindakan cyberbullying kepada anaknya. Menurut Symantec, hanya 14 persen dari orang tua di Indonesia yang melaporkan bahwa anaknya mengalami cyberbullying.

Banyaknya orang tua yang tidak tahu cara mengenali tanda-tanda cyberbullying serta anak yang memilih untuk diam adalah faktor yang menyebabkan cyberbullying jarang dilaporkan. Jika Anda mencurigai atau khawatir tentang cyberbullying, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berkomunikasi. Cyberbullying adalah subjek sensitif, dan memulai percakapan bisa jadi hal yang sulit.

Untuk mencegah cyberbullying, berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh para orang tua:
- Selalu memantau riwayat aplikasi peramban (browser) yang digunakan anak.
- Membatasi akses internet anak terhadap situs-situs tertentu.
- Selalu meninjau dan menyetujui semua aplikasi sebelum diunduh.
- Memberikan akses internet di area umum rumah atau tempat yang mudah diawasi orang tua.
- membatasi informasi yang bisa dibagikan anak di media sosial.
- Mengontrol akses internet rumah melalui fitur di router.

Selain cyberbullying, beberapa hal lain yang dikhawatirkan orang tua saat anak-anaknya mengakses dunia digital antara lain adalah:
- Mengunduh program yang berbahaya atau virus (72 persen)
- Memberikan terlalu banyak informasi pribadi kepada orang yang tidak kenal (68 persen)
- Terbujuk untuk bertemu dengan orang asing di dunia nyata (71 persen)
- Melakukan aktifitas online yang membuat seluruh keluarga menjadi rentan (62 persen), membuat keluarga malu (61 persen) atau menghantui mereka di masa depan dengan prospek pekerjaan dan peluang masuk universitas (53 persen)

Sumber : teknologi.metrotvnews.com 
 

 

» Back to News